Saat di Alun-alun Sumedang Doel Sumbang Ngaku Merinding, Ini Alasannya

SUMEDANGONLINE, Sumedang Kota – Biduan Pop Sunda Doel Sumbang mengaku hingga saat ini kreativitasnya dalam mencipta dan menyanyikan lagu masih terus berjalan. Meskipun industri rekaman terutama yang ditransfer ke keping CD dan DVD saat ini kurang menjanjikan. Saking banyaknya pembajakan.

“Saya masih merilis album. Bahkan baru-baru ini, saya mengeluarkan mini album. Karena isinya hanya lima lagu, berisi lagu lagu cinta yang berkaitan dengan wisata ada Karangkamulyan, ada Karangbolong Pangandaran,” kata Doel Sumbang pada SUMEDANGONLINE usai sebuah acara di Alun-alun Sumedang, Sabtu (28/7/2018).

“Tetapi saya tidak mencetak fisik; seperti CD atau lainnya. Karena memang, kondisi industri kita sangat tidak baik. Pembajakannya tidak bisa diatasi, sehingga secara bisnis sangat merugikan,” lanjutnya.

Meski demikian dirinya mengaku masih bisa berkreasi dengan mengobinasikan dengan era teknologi digital.

“Saya punya teman-teman yang memperjuangkan, bisa diupload atau di dengar di versi versi digital,” ungkapnya sambil menyebut sejumlah penyedia jasa digital.

“Jadi kreativitas itu; tidak bisa dihentikan, dan produksi juga tidak bisa dihentikan. Tapi saya bingung pakai media mana sekarang kita? Beruntungnya di era digital ini kita mempunyai banyak pilihan, yang serba murah, serba gratis. Malah seperti sosmed, misalkan untuk promosi YouTube, misalkan. Dan itu, buat saya sangat menyenangkan,” tambahnya.

Lalu kenapa dia merinding saat tiba di Alun-alun Sumedang. Usut punya usut Doel, terkesima dengan ribuan penonton yang larut dengan lagu lagu yang dibawakannya dulu. Namun, sampai sekarang seolah masih abadi.

Sebagai informasi dalam acara Napak Jagat Pasundan (NJP) yang digelar di area Alun-alun Sumedang, sesak dengan penonton. Beruntung panitia menyediakan tiga layar lebar.

“Acara ini, seakan melestarikan karya karya saya. Kita, bisa lihat tadi, biar peristiwa tadi yang menjawab bagaimana lagu Ai, Lagu Kali Merah, Pangandaran, misalkan. Arti Kehidupan, masih hidup. Padahal umur lagu itu sudah hampir setengah abad lebih. Dan saya ingat seorang musisi besar, Almarhum Harry Rusli; dulu bilang, bahwa sebuah karya, eksistensinya akan diuji dan dijawab oleh waktu bukan oleh sensasi atau berita, bukan. Tapi oleh waktu. Sampai berapa panjang, sampai sekarang pun kalau saya bawakan lagu Mumun, lagu Sumedang itu, kok orang masih nyanyi kan. Bahkan yang nyanyi bukan seratus orang, bisa ribuan orang.”

BACA JUGA  NU Jangan Hanya jadi Sebuah Kerumunan tapi Harus Jadi Barisan

“Dan saya yang merinding. Bukan penonton yang merinding, malah saya. Itu yang saya syukuri dari kejadian ini. Karena paling tidak, ketika penonton masih hapal karya kita sekarang, apalagi anak kecil. Maka dapat dipastikan umur eksistensi lagu 20 tahun mendatang masih berjaya,” ujarnya. *** FITRI

Silakan beri tanggapan terkait artikel ini:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.