Pilihan RedaksiSUMEDANG

LSL Dominasi Penderita ODHA di Kabupaten Sumedang

Wakil Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sumedang, Nandang Suherman menyebutkan ada sekitar 80 persen penderita Orang Dengan HIV Aids (ODHA) di kabupaten Sumedang adalah dari kalangan Lelaki Suka Lelaki (LSL).
Meski demikian Nandang belum bisa menyebutkan jumlah pasti LSL, termasuk komunitas LSL yang ada di Kota Tahu tersebut. ”Kami masih kesulitan dalam menekan ODHA di kalangan LSL, lantaran sulitnya memperoleh data yang akurat tentang jumlah LSL,” kata Nandang saat memberikan keterangan pers di Sekretariat KPA Kabupaten Sumedang, Jumat (28/6).

Beda dengan waria (wanita pria), yang sangat mudah nampak dari penampilan atau cara berbicaranya. Untuk mengantisipasi prilaku yang menyimpang itu, pihaknya akan bekerjasama dengan MUI. “Nanti, kami akan susun bagaimana melalui dakwah-dakwah yang dapat mengena terhadap mereka, karena hari ini memang beda,” terangnya.

Nandang menjelaskan, sejauh ini pihaknya belum nemiliki data akurat tentang jumlah LSL secara, adapun data yang ada, masih hanya sebatas asumsi. ”Yang kami tahu, LSL itu ada dua tipe. Ada yang berperan sebagai perempuan (bottom), ada juga yang berperan di atas atau sebagai laki-laki,” jelasnya.

Karena jumlah ODHA di Sumedang cukup signifikan, pihaknya berupaya keras dalam melakukan penanganan sesuai dengan Perda Nomor 5 Tahun 2015. ”Regulasi di level daerah sudah ada. Yang masih dianggap belum kuat itu level koordinasi lintas sektor. Terutama dalam program kegiatan,” katanya.

Di tempat sama, Pengelola Program dan Monev pada Sekretariat KPA Kabupaten Sumedang, Ai Andriani menyebutkan, secara keseluruhan, pengidap HIV Aids yang sudah memulai pengobatan ke RSUD Sumedang lebih dari 50 persen. Namun untuk mempertahankan tetap dalam pengobatan, dia menyebutkan terbilang sulit.

”Ada beberapa faktor yang menyebabkan itu, antara lain, asien karena jenuh harus mengonsumsi obat dalam jangka waktu lama,” katanya.

Faktor lainnya, pasien merasa tetap bisa beraktifitas tanpa harus meminum obat dan merasa sehat. ”Karena orang dengan HIV tidak menunjukan gejala sakit. Tetapi kalau sudah jatuh menjadi Aids, biasanya mereka akan balik lagi untuk pengobatan,” ungkapnya.

Selain itu, pindah domisili keluar kota tanpa konfirmasi dan stigma ODHA masih tinggi, sehingga tidak mau akses layanan ARV. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close