FEATURE & OPINIPilihan Redaksi

Pengantar Debat Perdana Capres

Oleh Dr. Dedi Kurnia Syah
Peneliti Politik Universitas Telkom, Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik (PSDPP)

DEBAT capres perdana akan menjadi seri debat paling berat bagi kedua capres-cawapres, pasalnya tema yang diusung terkait Hukum, HAM dan Terorisme, memiliki catatan khusus bagi kedua paslon, Prabowo dibayangi isu keterkaitan dirinya dengan kasus HAM di masa karir militernya, meskipun hingga saat ini belum ada titik terang benar tidaknya Prabowo terlibat.

Sementara bagi Jokowi, tidak kalah beratnya isu yang dapat disinggung, terutama kasus baru semisal Novel Baswedan yang berlarut, isu kriminalisasi ulama dan tokoh agama, intoleransi terkait agama juga banyak muncul di era Jokowi, terorisme yang muncul di lima tahun terakhir ini juga cukup banyak.

Sehingga, dari sisi tema debat perdana ini tidak menguntungkan bagi kedua capres.

Momentum Klarifikasi
Meskipun klasik, Prabowo harus memanfaatkan tema perdana ini sekurang-kurangnya untuk mempertegas posisinya dalam penegakan HAM di Indonesia, terutama komitmen membongkar apa yang sebenarnya terjadi dalam isu yang selama ini dialamatkan pada dirinya, jika hal ini tidak dilakukan, publik akan tetap percaya jika dirinya memang terlibat.

Prabowo harus tampil diluar hal normatif, menyampaikan argumen yang tidak tegas, mengawang, penuh wacana, tidak akan berhasil menarik kalangan pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voter). Untuk itu, Prabowo harus terbebas dari cara-cara normatif, publik menginginkan kejelasan posisi Prabowo terkait komitmennya penguatan Hukum HAM dan Terorisme.

Sementara Jokowi, penting baginya membuktikan diri bahwa selama ini isu yang menyebut adanya kriminalisasi ulama, dan penegakan hukum yang lemah ke atas, tidak benar. Pembuktian itu tentu memerlukan data, karena Jokowi merupakan petahana, posisinya sebagai penguasa sehingga memerlukan bukti kinerja, bukan lagi janji futuristik.

–catatan sebelum mulai debat–

Catatan Debat Capres Perdana

1. Visi dan Misi
Gestur Prabowo lebih meyakinkan dibanding Jokowi, hal ini terlihat bagaimana Prabowo sampaikan visi dan misi tanpa membaca teks, bahkan dengan gerakan tangan menandakan Prabowo memahami apa yang memang ia ingin sampaikan.

Sementara Jokowi terpaku pada teks, visi dan misi yang ia sampaikan juga perlu disayangkan, karena ia hanya menyampaikan hal normatif, berbeda dengan Prabowo yang menyinggung hal teknis. Jokowi dalam hal ini diuntungkan dengan ketenangan gestur tubuh, ia terlihat tidak banyak gerakan.

2. Argumentasi Kepastian Hukum
Menarik melihat cara pikir Prabowo-Sandiaga, dalam membangun kepastian sinergi penegakan hukum keduanya menyinggung perlunya para ahli terlibat, termasuk melibatkan Universitas sebagai sumber ahli, hal ini menunjukkan Prabowo memiliki semangat egaliterisme.

Jokowi diuntungkan dengan pengalaman birokrasi, sehingga argumentasi yang ia sampaikan terkesan sesuai platform, hanya saja hal ini justru menghilangkan nuansa inovatif di kubu Jokowi.

3. Penegakan HAM
Tidak ada hal baru dalam strategi penegakan HAM, baik Jokowi dan Prabowo, hal ini tentu disayangkan karena seharusnya tema ini perlu mendapat perhatian khusus. Terutama Prabowo yang sering diisukan sebagai pelaku pelanggar HAM.

4. Korupsi
Jokowi dengan pengalaman birokrat, tidak memberikan gagasan baru, seharusnya ada ide segar untuk menekan angka korupsi di Indonesia, selain pemberantasan perlu juga disampaikan agenda pencegahan terutama penguatan integritas pejabat publik dari sisi sistwm brokratik.

Refleksi
Secara umum Prabowo-Sandiaga terlihat lebih siap menghadapi debat perdana, keduanya saling melengkapi jawaban dari tiap2 pertanyaan yang dibuat panelis melalui amplop tersegel, sementara Jokowi lebih mendominasi dari cawapresnya Maruf Amin, kebalikan Sandiaga yang lebih sering menyampaikan cerita orisinil dari pengalamannya berkeliling, Maruf Amin hanya menambahkan informasi umum dan tidak pada tataran teknis, sehingga kurang menambah nilai orisinalitas dari argumentasi Jokowi.

Silakan beri tanggapan terkait artikel ini:

Related Articles

Close