Home FEATURE & OPINI Bolehkah Guru “Kaya”

Bolehkah Guru “Kaya”

Editor: Pitriyani Gunawan Terbit:

SEBELUM tulisan ringan ini dilanjutkan, saya ingin menyampaikan Selamat Hari Guru, kepada seluruh Guru baik yang profesinya Guru maupun setiap kita yang memang menjadi “guru”ba.gi yang lainnya.

Guru, wajib di gugu dan wajib di tiru. Itulah pepatah sunda, kepada warganya. Saking menghargai dan menjadikan guru sebagai orang yang “super”. Tidak boleh membantah apa yang diperintahkan guru, karena perintahnya adalah pendidikan.

Bahkan, tidak sedikit orang yang ingin berprofesi sebagai guru. Karena idolanya, guru, sebagai sosok yang pintar.

Pertanyaannya, sudahkan guru sejahtera dengan “pengabdian”-nya. Ada guru yang memang sudah kaya, tapi apakah hasil dari profesinya sebagai guru? Belum tentu.

Oleh: Rauf Nuryama, pemerhati masalah politik

Namun, jika guru itu kaya. Pandai mencari uang. Bisnis dan berdagang. Bukan hanya mengajar di sekolah. Maka guru sebagai pengabdian, mungkin akan Semakin tenar. Sayangnya, tidak sedikit guru yang “tidak kaya” bahkan cenderung apa adanya. Cenderung, maaf, secara ekonomi lebih susah dibandingkan anak didiknya yang anak orang “kaya”.

Apakah anak akan tetap mengidolakannya, kecuali anak belajar “baik” dari orangtuanya. Maka untuk menghargai guru, sudah sangat layak guru itu di “Kaya” kan. Minimal Sejahtera. Atau mereka harus mensejahterakan dirinya.

Jangan sampai, guru honorer sengsara karena tidak ada pengakuan padahal dibutuhkan. Semoga, Guru tetap dapat digugu dan ditiru. (*)

Silakan beri tanggapan terkait artikel ini:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.