Home FEATURE & OPINI Tantangan dan Harapan Bagi Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan

Tantangan dan Harapan Bagi Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan

Editor: Pitriyani Gunawan Terbit:
136
0
SUMEDANG baru saja berpesta demokrasi. Dapat dikatakan jalannya Pilkada 2018 berjalan dengan lancar tanpa ada gesekan. Lahirnya pucuk pimpinan baru di Sumedang tentu lahir juga harapan-harapan baru dan “lama”. Kemenangan Dony Ahmad Munir yang berpasangan dengan Erwan Setiawan diharapkan dapat membawa Kota Tahu ke-arah yang lebih lagi.

Penulis: Windu Mandela, S.Pd., M.Pd.,*

Dari segi pengalaman tidak diragukan lagi kepahaman pasangan ini. Berkecimpung di badan legislative pusat dan daerah merupakan modal penting untuk “lobi-lobi” segala sector. Celah yang ada di pusat dapat dimanfaatkan oleh Dony Ahmad Munir untuk kepentingan Sumedang. Kepentingan itu dapat beragam, mulai dari infrastruktur, pembenahan birokrasi, hingga kebudayaan.

Khususnya saya, melihat dari sisi kebudayaan. Gaung Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS) telah jauh sekali, nyaris tidak terdengar. Padahal dengan jargon SPBS adalah modal untuk Sumedang untuk dapat menjadi kabupaten unggulan di Jawa Barat maupun Nasional. Akan tetapi kebijakan yang menyokong SPBS ini tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Seperti Rabu Nyunda misal.

Sumedang tidak kekurangan seni budaya, malah Sumedang begitu kaya akan itu. Seni budaya merupakan kekayaan yang tidak ternilai. Sehingga perlu adanya pelestarian dan penanaman nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Sehingga yang namanya “Kasundaan” tidak hanya dapat dinikmati secara visual saja, melainkan secara prilaku dan tutur (pemakaian) basa sunda yang baik dan benar.
Bahasa yang ada di Indonesia kurang lebih ada 725 dan versi UNESCO ada 640 bahasa. Dari ratusan bahasa daerah tersebut, ada 14 bahasa di antaranya yang dinyatakan telah hilang. Hal ini disebabkan karena tidak ada lagi orang yang memakai bahasa daerahnya. Kalau kita melihat ke data tersebut tentu menjadi peringatan bagi orang sunda, khususnya Sumedang.
Memang bahasa Sunda masih banyak yang memakai. Akan tetapi bahasa sunda merupakan salahsatu bahasa yang kaya akan kosakata. Untuk menyebutkan makan saja ada untuk diri sendiri dan orang lain. Mungkin kita adalah salahsatu diantaranya yang kesulitan ngobrol dengan bahasa sunda dalam kesempatan formal maupun informal. Lebih memilih bahasa Indonesia sebagai pengantar karena takut keliru.
Sekali lagi, ini merupakan sinyal bagi bahasa sunda apabila tidak ada relugasi yang tepat. Ya, mungkin bahasa sunda akan tetap lestari, tapi yang dapat berbahasa sunda dengan baik, dengan undak usuk basa yang baik dapat terhitung jumlahnya. Dapat kita bayangkan apabila transfromasi budaya antar generasi tidak dilakukan maka bahasa Sunda akan kehilangan marwahnya. Dan ini menjadi tantangan bagi Sumedang yang telah menjadi Puseur Budaya Sunda.
Mungkin ini hanya satu dua tantangan dan harapan bagi saya, kepada pasangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan. Seni budaya harus tetap dilestarikan karena disana terdapat proses yang sangat panjang sehingga tidak ternilai harganya. Lalu semacam apa yang dapat dilakukan? Telah saya singgung di atas adalah dengan pembuatan regulasi yang tepat dan konsisten dalam menjalankannya.
Ada yang bilang juga, bahasa sunda tidak akan hilang selama masih ada penulis yang menulis dengan bahasa sunda. Menulis tidak hanya sebatas pendokumentasian sebuah peristiwa, melainkan juga sebagai pentitipan ragam bahasa. Maka dari itu perlu adanya perhatian lebih kepada penulis, untuk membuat event sastra saja sulit di Sumedang. Dan tentu, seniman, budayawan, semuanya. Tidak hanya bagi penulis.
Apabila semua sektor, pemerintahan, legislative, dan budayawan bersatu padu dengan semangat pelestarian, tentu akan menjadi modal yang baik. Ketahanan budaya yang menjadi filter budaya asing dapat terasa manfaatnya. Bukan hanya dalam pelestarian saja, melainkan karakter masyarakatnya, pariwisatanya, dan semangat menjaga keutuhan NKRI dapat dibangun sengingga lebih kuat. Semoga bupati Sumedang terpilih, Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan dapat mewujudkan Sumedang yang lebih berkemajuan di segala bidang. Khususnya Seni-Budaya.***

*Penulis adalah Penulis, Jurnalis, Dosen tinggal di Sumedang

Silakan beri tanggapan terkait artikel ini:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.