FEATURE & OPINIPilihan Redaksi

Sistem Zonasi, Ciptakan Sekolah Tidak Favorit Pada Waktunya

Oleh : Rauf Nuryama *)

Rauf Nuryama

PENERIMAAN Peserta Didik Baru (PPDB) menyisakan sesak di dada bagi beberapa kalangan. Bukan hanya di Sumedang, namun juga di kota dan kabupaten lainnya di Indonesia. Sebut saja robin, dia tidak diterima di SMP yang menjadi incarannya. Padahal teman-temannya dari satu sekolah dasar yang sama hampir diterima semua. Ketika ibunya nangis tersedu-sedu berharap anaknya dapat sekolah, akhirnya mencari sekolah lain yang penting sekolah.

Bukan karena alasan dekat, karena dekat ternyata relatif. Untuk zona perkotaan yang penduduk banyak dan sekolahnya cukup banyak, ternyata hanya sekolah tertentu yang menjadi incaran orangtua. Sekolah lainnya, sebagai cadangan saja. Namun apa yang terjadi, di dalam PPDB yang masih Offline, ketika siswa di rasa tidak akan masuk, segera pendaftaran ditarik dan daftar lagi ke sekolah yang lain. Ada juga sih, yang nunggu gugur dulu baru daftar ke sekolah lain. Ini di Sumedang.

Satu lagi yang menurut saya tidak elegan, pada saat pengumuman kelulusan, panitia tidak mengumumkannya secara terbuka. Selain melalui amplop yang di distribusikan ke sekolah dasar atau langsung jika daftar sendiri. Perilaku ini, tentunya sangat memancing hal-hal yang tidak baik. Masyarakat tidak tahu, NEM terendahnya berapa, walaupum bukan satu-satunya alasan siswa diterima.

Beda dengan saat saya masuk SMP, walaupun di kampung, NEM yang diurutkan sejumlah siswa yang diterima, ditempel di papan pengumuman. Atau lain halnya, di beberapa kota lain yang sudah menggunakan sistem PPDB Online, setiap saat siswa dan orangtua dapat melihat posisi apakah masih bisa bertahan daftar di sekolah yang bersangkutan atau harus segera cabut.

Sekretaris Dinas Pendidikan Sumedang, Unep, menyampaikan jaminan bahwa di Sumedang tidak ada jual beli kursi dalam PPDB. Saya sepakat dengan unep, jika bukti dan saksi serta korban sepakat melakukan hal yang tidak benar. Pasti tidak akan terungkap perilaku ini. Artinya, pasti akan nihil.

Namun melihat dari status fb (baca: facebook), ada seorang menulis, untuk masuk sekolah SMP Favorit, untuk orang tertentu bisa di luluskan dengan membayar Rp 2,5 Juta termasuk seragam. Hal yang sama juga diterima oleh orangtua robin. Namun apakah orangtua berani melaporkan panitia penerimaan kepada dinas pendidikan, saya pikir tidak akan ada yang berani. Sama dengan bunuh diri. Walaupun anaknya nanti diterima, rasa was waas dan takut lebih tinggi dibandingan dengan harus melaporlan perilaku tidak baik. Ketakutan yang paling utama, takut akan apa yang akan diperlakukan kepada anaknya jika melaporkan kepada pihak yang semestinya.

Namun, ini tidak begitu penting untuk dibahas. Ada satu hal yang harus diingat oleh siswa maupun orangtua siswa, bahwa ke depan, dengan sistem zonasi ini akan menumbuhkan sekolah favorit baru. Karena siswa yang pintar, bisa jadi akan menyebar. Atau bisa jadi sebaliknya, tidak lagi ada sekolah favorit. Sebagaimana pepatah mengatakan, jika anda ingin mendapatkan padi yang kualitas bagus maka pastikan benih yang di tanam adalah varietas unggulan.

Jika bibitnya, jelek sebagus apapun petaninya (baca : guru) pasti berasnya bukan yang diharapkan. Ini baru akan terasa setelah, beberapa tahun ke depan.

Jika masalahnya adalah ingin menjadikan sekolah semuanya favorit, maka sekolah melalui kepala sekolah, guru, siswa dan orangtua, bersama-sama jadikan sekolah itu “bernilai”. Jangan menunggu semuanya menjadi baik, tapi bekerjalah bersama untuk menjadi yang terbaik.

Selamat berkompetisi dalam sistem zonasi. Semoga bisa berprestasi, atau nanti akan di eliminasi.

*) Penulis adalah Sekretaris Yayasan yang mengelola salah satu SMK Swasta di Sumedang.

Tags

Silakan beri tanggapan terkait artikel ini:

Check Also

Close
Close