DAERAHPilihan Redaksi

Ini nasib penerima kompensasi Rp 29 juta

MALANG nian nasib penerima uang santunan Rp 29 juta, terutama yang termasuk pada pecahan KK priode pembayaran 1984-1986. Mereka yang tinggal di area genangan waduk Jatigede itu, nasibnya cukup memprihatinkan.
Seperti dialami Sahari, warga terdampak Jatigede ini penerima uang santunan kerohiman senilai Rp 29 juta. Sayangnya, uang senilai itu tak cukup untuk dibangunkan rumah kembali. Padahal di tempat lamanya, Sahri memiliki tempat tinggal, meskipun sederhana. Sahri, termasuk keluarga yang secara ekonomi kurang.
Karena, harus pindah segera. Imbasnya, sangat ia rasakan. Beberapa hutang pribadi harus cepat-cepat dilunasi, sehingga berkurang lah jatah dirinya untuk membangun rumahnya kembali.
“Begitu saya terima uang, sebelum saya membeli bahan bangunan, saya lebih dahulu melunasi hutang-hutang saya. Karena, saya orang yang tak mampu,” papar dia mengungkapkan pengalaman getirnya.
Niat hatinya ingin bertahan, namun karena melihat sejumlah tetangganya mulai membongkar rumah. Sahri pun dengan terpaksa turut pula membongkar rumahnya. Pantas itu ia lakukan, karena air waduk Jatigede sudah makin mendekat ke wilayahnya. Jika ia tetap bertahan di lokasi lama, satu kemungkinan rumahnya bakal terendam.
Putusannya untuk membongkar rumah, membuatnya makin bingung. Karena, Sahri belum memiliki tempat tinggal baru, ia baru berniat membangun rumah kembali di wilayah Kecamatan Wado. Di pilihnya lokasi yang berjarak lebih dari 5 kilometer itu, lantaran ada tanah milik orangtuanya disana, sehingga ia tak harus merogoh kocek kembali untuk pembelian lahan.
Harga lahan sendiri di lokasi wilayah genangan Jatigede, saat ini meningkat tajam, mulai dari Rp 1,5 hingga 3 juta rupiah per bata. Jika, tak memilih tanah milik orangtuanya, dipastikan uang santunan miliknya akan banyak berkurang, apalagi sebelumnya telah terlebih dahulu digunakan untuk melunasi hutang.
“Kalau untuk tanah. Saya sudah ada, tapi untuk membangun saya yakin tidak akan selesai, saat ini saja uang yang ada tinggal Rp 5 juta, sementara kondisi rumah belum dibangun,” ungkapnya sedih.
Saat ini, Sahri dan keluarganya, tidur di luar beralaskan tikar dan beratapkan tenda seadanya. Ia berharap hujan jangan dulu turun, karena jika hujan, ia akan kerepotan.
“Saat ini rumah kita sudah di bongkar untuk menambah biaya pembangunan. Tapi saya bingung mau tidur di mana, terpaksa kita tidur seadanya. Asalkan jangan hujan aja, karena kalau itu terjadi tentu kita tidur di bawah guyuran hujan,” ucap lirih.
Sahri saat ini memiliki seorang anak dan anaknya itu sudah memiliki balita, balita tersebut ikut merasakan penderitaan dari dampak pembangunan Waduk Jatigede yang dinilainya malah justru menyengsarakan rakyat di wilayah genangan. ***

Silakan beri tanggapan terkait artikel ini:

Related Articles

Close