DAERAH

Jalan Cibayawak Rusak, Cikeusi Terisolir

MELINTAS – Sekeluarga melintas dengan kendaraan roda dua, putusnya jembatan tersebut membuat Dusun Cikeusi terisolir.
MELINTAS – Sekeluarga melintas dengan kendaraan roda dua, putusnya jembatan tersebut membuat Dusun Cikeusi terisolir.

CISITU – Warga Dusun Cikeusi, Desa Cinangsi, Kecamatan Cisitu, berharap agar jembatan Cibayawak yang rusak lebih dari setahun akibat pergerakan tanah lambat beberapa tahun lalu, dapat segera diperbaiki. Jalan itu menurut salah seorang warga, Cecen, merupakan jalan utama transportasi antara Dusun Cikeusi dengan Cinangsi.
“Tidak hanya masyarakat umum yang menggunakan jalan ini, tetapi juga pelajar. Saya merasa kasihan kalau mereka melintas kawasan itu saat musim hujan. Jalan yang licin tidak sedikit yang menyebabkan kendaraan tergelincir,” ujar Cecen kepada Sumeks, Jumat (8/6).
Akibat rusaknya jalan dan jembatan menuju Dusun Cikeusi, menurut Cecen, menjadikan perkampungan yang memiliki dua rukun warga (RW) dan empat rukun tetangga (RT) seperti terisolir. “Perbaikan memang sudah dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, tapi masyarakat mengharapkan agar jembatan itu minimalnya dalam jangka pendek ini geladaknya dulu dapat dibangun agar lebih kokoh, karena selama ini kendaraan roda empat sudah tidak dapat melintas,” lanjutnya.
Kepala Desa Cinangsi, Amat Suparmat, membenarkan tentang rusaknya jalan dan jembatan Cibayawak tersebut. Amat menyebut rusaknya jembatan dan jalan sudah terjadi sejak tahun 2010 lalu. Bahkan dikatakan Kepala Desa Cinangsi itu, bukan hanya infrastruktur berupa jalan saja yang rusak, hingga saat ini Desa Cinangsi tak memiliki kantor kepala desa. Kantor tersebut ambruk karena pergerakan tanah lambat, awal Februari 2010.
“Bencana alam tahun 2010 lalu, telah merusak infrastruktur yang ada di Cinangsi, termasuk jalan Cibayawak. Bahkan warga Cinangsi saat ini tidak memiliki kantor desa, akibat ambruk. Padahal keberadaan kantor tersebut sangat perlu untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Kepala Desa Cinangsi Amat Suparmat.
Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Sumedang, H Taufik Gunawansyah, dalam sebuah acara di Dusun Cikeusi, mengaku prihatin. Wabup pun menyebutkan bukan tidak memperhatikan masyarakat Desa Cinangsi, upaya untuk memperbaiki infrastruktur akibat bencana alam itu telah diupayakan Pemerintah Kabupaten Sumedang.
“Infrastruktur jalan dan jembatan, termasuk Kantor Kepala Desa Cinangsi menjadi perhatian kita. Kita sudah mendorong namun belum masuk pada anggaran, mudah-mudahan pada anggaran perubahan dapat segera direalisasikan,” ungkap Wabup.
Di sisi lain Opik -sapaan akrabnya- menilai, masih kentalnya masyarakat Dusun Cikeusi memelihara tradisi leluhur seperti mengadakan hajat lembur, dianggapnya sebagai sesuatu yang baik dan membanggakan. Karena menurut Opik, inti dari hajat lembur tersebut sebagai sebuah bentuk perwujudan rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT, untuk mengambil nilai barokahnya.
“Warisan leluhur itu bukan hanya cangkang (kulit luar) tetapi mengandung makna yang besar di dalamnya untuk kehidupan manusia yang akan datang,” lanjutnya.
Disebutkan Opik, banyak masyarakat saat ini telah meninggalkan jejak luluhur, sehingga dengan Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS), pemerintah Sumedang dikatakan Opik, ingin kembali membangkitkan nilai-nilai luhur Sunda, agar orang Sunda punya jatidiri.
“Harapan ke depannya agar ki Sunda itu menemukan kehidupan gerenah merenah tur tumaninah, hal itu dapat ditemukan jika kita sudah jadi orang Sunda yang sebenarnya,” pungkasnya.(ign)

Pitriyani Gunawan

Pitriyani Gunawan merupakan salahseorang pendiri dari SUMEDANG ONLINE, aktif menulis sejak masih dibangku sekolah. Dan mulai belajar Jurnalistik sejak tahun 2010.

Silakan beri tanggapan terkait artikel ini:

Related Articles