OLAHRAGA

Dian: Jika Ricuh Porseba Bisa Ditutup

MASUK LAPANGAN – Beberapa penonton berusaha masuk ke dalam lapangan, memperparah situasi yang sedang memanas.

SITURAJA – Turnamen sepak bola Porseba Cup XI mempertemukan klub HIMPACA dari Campaka, Desa Sundamekar melawan Klub Garuda Kecana dari Cilopang Girang Desa Cilopang keduanya dari Kecamatan Cisitu diwarnai dengan kerusuhan satu menit sebelum pertandingan berakhir, saat itu Garuda Kencana unggul 1-0.

Keterangan dihimpun Sumeks, kejadian berawal saat pemain dari Himpaca melakukan protes terhadap wasit Kemal yang tidak memberikan tendangan penalty saat pemain Himpaca terjatuh di kotak penalty.

“Saat kejadian posisi bola masih menguntungkan bagi Himpaca (advantage ball) hingga saya tidak mungkin meniup peluit dan memberikan tendangan penalty lalu saya katakan play on kepada pemain,” jelas Kemal kepada Sumeks yang ditemui seusai pertandingan, Rabu (27/6).

Namun, kapten Himpaca melakukan protes keras terhadap Kemal dengan cara mendorongnya dan diikuti pemain lainnya, serta merta supporter pun mulai berlarian memasuki lapangan dan berusaha mengejar wasit. Tidak sampai disitu, mereka pun melakukan tindakan tidak terpuji dengan berusaha memukuli pemain lawan.

Panitia dibantu pihak keamanan pun cepat tanggap dengan berusaha mengamankan wasit dan pemain Garuda Kencana. Bahkan beberapa panitia terkena pukulan saat melerai dan mengamankan situasi.

“Saat saya berusaha melerai keributan, tiba-tiba bogem mentah mendarat di pipi saya,” ujar Sule salah satu panitia yang terkena pukulan oknum supporter dengan memperlihatkan lebam di pipinya.

Pihak panitia yang ditemui Sumeks kemarin di sekretariat sedang melakukan rapat terkait kejadian tersebut dan sedang menyusun SK Komisi Disiplin untuk memberikan sanksi kepada kesebelasan yang disinyalir menjadi penyebab kerusuhan. Pihak panpel menjelaskan bahwa pihaknya siap menerima konsekuensi apabila turnamen ini harus dihentikan di tengah jalan apabila situasi dan kondisi sudah tidak kondusif lagi.

“Ini menjadi warning bagi klub-klub lain yang masih berlaga di PORSEBA CUP agar menjaga turnamen ini tetap kondusif,” ujar Wakil Sekretaris Turnamen, Dian Purnama.

“Apabila kejadian serupa terulang lagi baik oleh pemain, official maupun supporter, kami akan meminta secara langsung kepada pihak kepolisian untuk menghentikan turnamen ini,” tambahnya.

Pernyataan ini menurut Dian patut disikapi positif oleh semua klub yang masih berlaga, betapa sulitnya mengadakan sebuah event sepakbola di Sumedang, mengingat dibeberapa tempat lain turnamen sejenis sudah tidak dilakukan. Sebagai gambaran turnamen sepakbola di kecamatan lain saat ini sudah tidak mendapatkan ijin lagi dari pihak kepolisian.

“Apakah mereka (klub-red) mau jika PORSEBA CUP ditutup, sementara masih banyak pertandingan sisa sampai final 15 Juli nanti? Ibaratnya buat apa latihan terus kalau tidak diuji dalam sebuah turnamen,”pungkasnya. (ign)

3 Comments

  1. sok lah garelut meh lewih rame, kilang bara atuh garelut jeung nagara batur mah hese mendingan jeung nu darekeut komo bari silih duruk imah mah parantes lah nagara keur kaayaan kieu mah…( bari jeung gegetret hulu bakat ku kesel ngabandungan masyarakat urang pangabisa na teh ngan ribut we jeung ribut rek iraha majuna atuh nya )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close