FEATURE & OPINI

Guru Tidak Sekedar Pengajar, Tapi Juga Pelajar

Novi Teguh

Seiring dengan paradigma pendidikan yang cukup dilematis saat ini, tentunya mau tidak mau hal ini akan menuntun sosok seorang guru untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan yang ada dalam setiap perubahan, tentunya untuk menjadikan dunia pendidikan terutama guru lebih profesional, loyal dan menjadi suri tauladan yang diharapkan dari tugas dan fungsi guru. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menyesuaikan perubahan tersebut adalah dengan cara belajar terus menerus, artinya guru bukanlah sebagai pengajar saja tetapi guru merupakan bagian dari pelajar.
Hal yang membedakan pada posisi guru dan pelajar disini adalah, dimana tuntutan untuk belajar bukanlah untuk siswa didiknya saja, akan tetapi jauh lebih baik tuntutan tersebut juga berlaku untuk dirinya sendiri (dalam hal ini guru). Yang menjadi dasar paling mencolok atas perbedaan tersebut yaitu dimana siswa didik di tuntut untuk belajar cara belajar yang baik, akan tetapi sosok seorang guru akan lebih dituntut, selain cara belajar yang baik tentunya akan lebih mendasar kepada senantiasa bagaimana cara mengajar yang baik.
Banyak hal yang dapat dilakukan seorang guru untuk belajar, salah satu sumber mengatakan ada beberapa hal yang dapat dilakukan, diantaranya :
1. Guru belajar dari praktik pembelajaran yang dilakukannya,
Saat kita melakukan pembelajaran kepada siswa tentunya apa yang kita berikan mengenai pembelajaran tersebut, kita bisa mempelajari apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita berikan kepada siswa. Kemudian kita telaah yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita dalam melakukan proses pembelajaran. Terkadang apa yang menjadi kelemahan akan diri kita sebagai guru menjadi kelebihan yang dimiliki siswa didik, begitupun sebaliknya hal yang menjadi kelemahan mereka akan menjadi kelebihan dalam diri kita. Artinya kemungkinan besar kita bisa memahami akan kelebihan menjadi sebuah kekuatan dalam proses pembelajaran, dan saat mengetahui titik kelemahan hal ini menjadi hal baru untuk kita tetap belajar. Sehingga dari kesekian itu kita dapat memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk menjadikan profesi ini lebih baik.
2. Guru belajar melalui interaksi dengan guru lain
Hal ini akan lebih baik jika dilakukan, tentunya interaksi sesama guru akan menjadi hal terbaik salah satunya dalam bentuk pengalaman. Pengalaman seseorang akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Semakin banyak interaksi yang dilakukan maka akan semakin erat hubungan guru, sehingga proses pembelajaran untuk profesi ini akan lebih baik. Interaksi sesama guru tidaklah terjadi dengan guru satu bidang studi yang sama, ataupun dalam satu sekolah yang sama. Akan tetapi interaksi dengan berbeda bidang studi maupun berbeda sekolah akan lebih besar pengaruhnya terhadap proses belajar sebagai guru. Perbedaan ini akan memberikan arti dan pembelajaran yang berbeda, sehingga dapat meningkatkan kualitas kita sebagai guru.
3. Guru belajar melalui ahli/konsultan
Terkadang hal ini juga harus dilakukan, sebagai bahan perbandingan kita untuk menjadi guru yang lebih baik, para ahli cenderung akan dapat menilai karakter kita sebagai jiwa pendidik, apalagi para ahli ini tentunya pendidikan yang ditempuh secara formal jauh lebih baik dari kita yang hanya keseharian kita menghadapi siswa didik.
4. Guru belajar melalui pendidikan lanjutan dan pendalaman
Jenjang pendidikan formal lebih tinggi akan menuntuk kita duduk dalam pengalaman serta pengetahuan yang lebih, tentunya semakin tinggi pendidikan yang ditempuh menjadi penunjang dalam kita melakukan proses pembelajaran yang lebih baik, apa yang tidak kita dapatkan saat proses pembelajaran sebagai pengajar akan kita dapatkan saat kita menjadi pelajar.
5. Guru belajar melalui cara yang terpisah dari tugas profesional
Disaat kita memegang sebuah bidang studi, apa yang kita berikan kepada siswa didik tidak akan jauh dari apa yang kita dapatkan saat kita menduduki tingkat pendidikan saat kita sebelum menjadi pendidik. Tentunya hal ini akan mendukung kita dalam proses belajar menjadi seorang guru. Melakukan pembelajaran menjadi seorang guru terkadang dapat kita peroleh dari hal yang bertolak belakang dengan profesi kita.

BACA JUGA  Sempat Ditunda, Sidang Dilanjut Hari Ini

Dari hal diatas, selain guna meningkatkan proses belajar sebagai guru tentunya juga bisa untuk cara meningkatkan Budaya Guru di sekolah maupun Lingkungan sekitar. Karena sekolah tentunya memiliki bentuk-bentuk budaya tertentu, salah satunya Budaya Guru, yang menggambarkan tentang karakeristik pola-pola hubungan guru di sekolah. Hargreaves (1992) telah mengidentifikasi lima bentuk budaya guru, yaitu : Individualism, Balkanization, Contrived Collegiality, Collaboration, dan Moving Mosaic.
1. Individualism. Budaya dalam bentuk ini ditandai dengan adanya sebagian besar guru bekerja secara sendiri-sendiri (soliter), mereka menjadi tersisolasi dalam ruang kelasnya, dan hanya sedikit kolaborasi, sehingga kesempatan pengembangan profesi melalui diskusi atau sharing dengan yang lain menjadi sangat terbatas.
2. Balkanization. Bentuk budaya yang kedua ini ditandai dengan adanya sub-sub kelompok secara terpisah yang cenderung saling bersaing dan lebih mementingkan kelompoknya daripada mementingkan sekolah secara keseluruhan. Misalnya, hadirnya kelompok guru senior dan guru junior atau kelompok-kelompok guru berdasarkan mata pelajaran. Pada budaya ini, komunikasi jarang terjadi dan kurang adanya kesinambungan dalam memantau perkembangan perilaku siswa, bahkan cenderung mengabaikannya.
3. Contrived Collegiality. Bentuk budaya yang ketiga ini sudah terjadi kolaborasi yang ditentukan oleh manajemen, misalnya menentukan prosedur perencanaan bersama, konsultasi dan pengambilan keputusan, serta pandangan tentang hasil-hasil yang diharapkan. Bentuk budaya ini sangat bermanfaat untuk masa-masa awal dalam membangun hubungan kolaboratif para guru. Kendati demikian, pada budaya ini belum bisa menjamin ketercapaian hasil, karena untuk membangun budaya kolaboratif memang tidak bisa melalui paksaan.
4. Collaboration. Pada budaya inilah guru dapat memilih secara bebas dan saling mendukung dengan didasari saling percaya dan keterbukaan. Dalam budaya kolaboratif terdapat saling keterpaduan (intermixing) antara kehidupan pribadi dengan tugas-tugas profesional, saling menghargai, dan adanya toleransi atas perbedaan.
5. Moving Mosaic. Pada model ini sekolah sudah menunjukkan karakteristik seperti apa yang disampaikan oleh Senge (1990) tentang “learning organisation”. Para guru sangat fleksibel dan adaptif, semua guru mengambil peran, bekerja secara kolaboratif dan reflektif, serta memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan secara
Dari ke-5 jenis ini tentunya kita dapat mengambil hal terbaik untuk proses belajar kita sebagai guru. Pada dasarnya dari penjabaran diatas, penulis berharap Guru Bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pelajar, sehingga proses terus belajar akan terus berlanjut. Amien!!

BACA JUGA  Kebakaran Hutan, Arus Lalu Lintas Cadas Pangeran Sempat Tersendat

Penulis : Novi Teguh (Guru SMK YPGU Sumedang)

Tags

Pitriyani Gunawan

Pitriyani Gunawan merupakan salahseorang pendiri dari SUMEDANG ONLINE, aktif menulis sejak masih dibangku sekolah. Dan mulai belajar Jurnalistik sejak tahun 2010.

Silakan beri tanggapan terkait artikel ini:

Related Articles